Review Buku The Power of Habit

Judul : The Power of Habit
Penulis : Charles Duhigg
Penerbit : KPG
ISBN : 978-979-91-0565-3
Tebal : 369 halaman
Tahun Terbit : 2012
Cetakan : ke 8 Juli 2016
Genre : Non Fiksi

Mari kita simak review buku tentang kekuatan kebiasaan.

Buku The Power of Habit setebal lebih dari 300 halaman ini merupakan karya Charles Duhigg seorang reporter New York Times yang telah mendapatkan berbagai penghargaan atas karyanya.

Di awal, buku ini menyampaikan bahwa kebiasaan tercipta akibat fungsi otak yang bertujuan untuk menghemat upaya.

Contoh sederhananya adalah ketika kita melakukan liburan dengan mengendarai mobil sendiri. Otak kita telah memberikan kebiasaan dalam menyetir, sehingga setiap kali liburan kita tidak perlu untuk belajar menyetir kembali.

Penggambaran kebiasaan secara sederhana juga digambarkan melalui seekor tikus percobaan. Tikus ini disimpan di ruangan tertutup. Setiap kali terdengar bunyi klik, itu adalah tanda pintu terbuka yang memberikan tikus jalan keluar, tikus mulai menyusuri jalan. Setiap kali tikus keluar dan berputar-putar dalam labirinnya, tikus akan mendapatkan ganjaran, sebatang coklat. Awalnya tikus ini mencoba berbagai jalan, sampai dia mendapatkan jalan tercepat mendapatkan coklat.

Demikianlah sebuah kebiasaan bekerja, untuk menghemat upaya.

Duhigg, menjelaskan pola lingkar kebiasaan: tanda – rutinitas – ganjaran.

Dalam konteks tikus percobaan: tanda yaitu bunyi klik, rutinitas yaitu pencarian jalan, dan ganjaran yaitu tikus mendapatkan coklat.

Sepanjang pembahasan buku, lingkar kebiasaan inilah yang membantu pembaca untuk memahami bagaimana sebuah kebiasaan bisa dipetakan untuk kemudian dirubah untuk menjadi lebih baik. Kebiasaan lama yang ingin diubah, dalam lingkar kebiasaan, hanyalah merubah rutinitas yang baru. Sedangkan tanda dan ganjaran tetap sama.

Contoh-contoh bagaimana sebuah kebiasaan bekerja, diceritakan dengan baik di buku ini dari beberapa hasil pengamatan Duhigg. Pengamatan meliputi bidang medis, pribadi, kehidupan sosial, organisasi bahkan korporasi. Buku ini menceritakan bagaimana pemetaan sebuah lingkar kebiasaan bisa merubah kebiasaan seorang gadis menggigiti kuku yang dapat dialihkan pada aktivitas lain.

Untuk level korporasi, terlihat bagaimana Paul O’neill CEO Alumunium Company of America (Alcoa) berhasil menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan teraman untuk bekerja saat itu. Kiprahnya adalah merubah pola komunikasi setiap saat ada kejadian kecelakaan kerja. Laporan kejadian dan tindak lanjut yang dilakukan harus dilaporkan kepadanya sesaat setelah kejadian.

Kebiasaan mekanisme laporan ini mendorong komunikasi sampai ke level bawah. Bukan hanya laporan tapi tindak lanjutnya. Kebiasaan pola komunikasi ini pun kemudian dimanfaatkan oleh insan Alcoa untuk bertukar info lainnya. Sehingga dengan sendirinya, komunikasi pola baru ini memberikan nilai tambah.

Selain itu, ada studi kasus lainnya tentang bagaimana Starbucks memberikan pelatihan yang mempersiapkan karyawan untuk menghadapi masa-masa kritis yaitu saat pelanggan mulai marah. Adalah Travis, seorang manajer yang di usianya baru menginjak 25 tahun sudah memegang 2 cabang, yang menceritakan bagajamana Starbucks memberikan pelatihan pada hari pertama dia mulai bekerja dan pelatihan yang berkelanjutan selama karirnya.

Pelatihan-pelatihan tersebut menumbuhkan lingkar kebiasaan yang membentuk kekuatan tekad (will power). Kekuatan tekad inilah yang menjadikan karyawan Starbucks mampu menghadapi saat-saat kritis tersebut.

Dalam sebuah organisasi, kebiasaan sebuah departemen yang hanya melihat tugasnya dalam lingkupnya sendiri akan menciptakan sebuah bencana.

Duhigg, menjelaskan pola lingkar kebiasaan: tanda – rutinitas – ganjaran.

Kisah yang diceritakan dengan detail dalam buku ini, adalah tentang kebakaran yang terjadi di stasiun bawah tanah King’s Cross pada bulan November 1987. Dalam kejadian itu, tiap-tiap departemen mempunyai kebiasaan untuk bekerja pada bidangnya sendiri. Hal ini menyebabkan kebakaran yang awalnya bisa dicegah sejak dini, menjadi tidak terkendali.

Pada bab berikutnya, diceritakan bagaimana Target mampu mengelola data pelanggan yang berkorelasi dengan kebiasaan pelanggan tersebut. Sehingga, pelanggan Target mendapatkan brosur atau kupon berdasarkan yang dibutuhkan oleh pelanggan.

Duhigg menyampaikan bagaimana memilih kebiasaan kunci yang benar akan memberikan perubahan yang menakjubkan, sedangkan memilih kebiasaan kunci yang salah akan menjadi bencana.

Guidelines merubah kebiasaan tersebut terdiri dari identifikasi rutinitas, mencoba dengan gamjaran, menemukan tanda dan menyusun rencana.

Bab per bab dalam buku ini disusun berdasarkan studi kasus. Penyampaian cerita detail untuk setiap kejadian. Tentunya di akhir cerita, disampaikan juga, bagaimana merubah kebiasaan akhirnya memberikan kesuksesan dalam setiap kejadian yang diceritakan.

Yah, paling tidak bagi Anda yang ingin membaca buku ini, harus fokus. Hal ini dikarenakan ada sinkronisasi antar bab.

Beberapa studi kasus yang diceritakan dalam buku ini adalah kejadian di Amerika Serikat. Namun, Duhigg mampu meramu kejadian per kejadian dengan detail, sehingga pembaca bisa larut di dalamnya.

Nah, di akhir buku, Duhigg membuat semacam guidelines sederhana bagaimana merubah sebuah kebiasaan.

Guidelines merubah kebiasaan tersebut terdiri dari identifikasi rutinitas, mencoba dengan gamjaran, menemukan tanda dan menyusun rencana. Nah dalam contoh guidelines ini, sebuah cara Duhigg mengubah